BAB 1 PENDAHULAN

Pendahuluan
Pada bab 1 menjelaskan secara umum definisi dari ukuran kapal sesuai dengan klasifikasi BKI yaitu panjang,lebar tinggi serta sarat kapal .Dimana komponen ini disebut juga dengan data utama kapal yang penting sebelum memulai menghitung bagian konstruksi kapal lainnya. Bagian lain yang juga amat penting adalah koefisien blok yang menentukan bentuk bagian bawah kapal serta definisi bagian geladak kapal.
Tujuan bab :
 Menjelaskan definisi bagian kapal berdasarkan klasifikasi BKI
1. Dimensi
1.1 Panjang L (1.H.2. 1)
Jarak pada garis air muat musim, panas yang diukur dari garis tegak linggi haluan sampai bagian belakang linggi kemudi, atau pusat dari tongkat kemudi
jika tidak ada linggi kemudi. L tidak boleh kurang dari 96 % LWL, dan tidak boleh lebih dari 97 % LWL.
96%LWL<L<97%LWL
1.2 Lebar (breadth) B (1.11.2.5)
Lebar terbesar pada kapal yang diukur pada kulit kapal bagian dalam, dan biasanya dihitung pada tengah kapal.
1.3 Tinggi (depth) H (1.H.2.6)
Jarak vertikal pada tengah panjang L yang diukur dari base line
sampai bagian atas tepi balok geladak pada geladak menerus
yang paling atas (main deck).
1.4 Sarat (draught) T (1.H.2.7)
Jarak vertikal pada tengah panjang L yang diukur dari base line
sampai tanda lambung timbul untuk garis muat musim panas.
2. Koefisien Block Cb (1.H.4)
Perbandingan antara volume kotak yang diukur pada garis air muat.

3. Geladak
3.1 Geladak Sekat (I.H.6. 1)
Deck teratas pada, sekat kedap bulkhead
3.2 Geladak Lambung Timbul (I.H.6.2)
Geladak yang menjadi dasar perhitungan lambung timbul
3.3 Geladak Kekuatan (I.H.6.3)
Geladak atau bagian dari geladak yang terletak pada bagian kapal yang mempengaruhi kekuatan memanjang kapal.
3.4 Geladak Cuaca (I.H.6.4)
Seluruh geladak atau bagian geladak yang terbuka dan terkena air laut
3.5 Geladak Bangunan Atas (I.H.6.5)
Geladak diatas main deck termasuk geladak kimbul (forecastle)
geladak anjungan (bridge) dan geladak akil (poop deck).

BAB 2. PERHITUNGAN BEBAN
Pendahuluan
Bab 2 ini menjelaskan beban-beban yang akan dihitung berdasarkan klasifikasi BKI yang akan sangat berpengaruh terhadap pemilihan dari ketebalan pelat serta penggunaan profil untuk membangun konstrusi dari kapal.
Tujuan bab
 Menjelaskan Pembebanan yang pada kapal yaitu beban geladak , beban sisi dan beban alas berdasarkan klasifikasi BKI
 Menjelaskan beban pada setiap bagian kapal yaitu pada bagian after, midship dan forepeak khususnya pada bagian plat, frame serta penumpu sesuai dengan klasifikasi klas BKI
2.1 Beban geladak kapal
1. Pusat beban (load center)(4.A.2.2)

f1 = 1,0 untuk plat kulit dan geladak cuaca
f 2 = 0,75 untuk main frame,stiffener, dan balok geladak
f3 = 0,6 untuk SG, CG, CDG, SDG Web frame, Stringers, dan Grillage system
2. Beban pada geladak
PD = x CD [ KN / M2 ]
Po = Basis Eksternal dinamic Load
Untuk Plat dan Geladak Cuaca
Po1 = 2,1 (Cb + 0,7) Co CL f 1 KN/m2
Untuk Main Frame dan Deack Beam
Po2 = 2,1 (Cb + 0,7) Co CL f 2 KN/m2
untuk web, stringer, girder,strong beam
Po3 = 2,1 (Cb + 0,7) Co CL f 3 KN/m
Cb = koefisien block 0,69
Co = for 90  L  300 M
CL = 1,0 untuk L  90 M
CD1 = 1,2 – X/L (untuk 0 0,2 ; buritan kapal)
CD2 = 1,0 (untuk 0,2 0,7 ; tengah kapal)
CD3 = 1,0 + (untuk 0,7  1,0 ; haluan kapal)
Dimana
Nilai C : 0,15 L – 10
Apabila L min = 100 M
Lmax = 200 M
C = 0,15 (97,90) – 10
2.1.1. Beban Geladak pada geladak cuaca
a) Untuk menghitung plat geladak cuaca
1) Pada daerah buritan
PD1 = x CD1
2) Pada daerah midship
PD2 = x CD2
3) Pada daerah Haluan
PD3 = x CD3

b) Untuk menghitung deck beam (balok geladak),main frame
1) Pada daerah buritan
PD1 = x CD1
2) Pada daerah Midship kapal
PD2 = x CD2
3) Pada daerah Haluan kapal
PD3 = x CD3
c) Untuk untuk web, stringer, girder,strong beam
1) Pada daerah buritan
PD1 = x CD1
2) Pada daerah Midship kapal
PD2 = x CD2
3) Pada daerah Haluan kapal
PD3 = x CD3
2.1.2 Beban Geladak Pada Bangunan Atas Dan Rumah Geladak
Beban Geladak pada bangunan atas dan rumah geladak dihitung berdasarkan formula sebagai berikut [BKI 2001 Sec.4-3.B.51]
P DA = PD x n [KN / M2]
Dimana
PDA = Beban geladak pada buritan
n = Z = H + h
h1, h2, h3 =( 2,2 M ) Ukuran Plat
Nilai “Z” bangunan atas untuk beban geladak;
1. Z1 = H + 2,2 = ; Poop deck
2. Z2 = Z1 + 2,2 = ; Boat deck
3. Z3 = Z2 + 2,2 = ; Navigasi deck
4. Z4 = Z3 + 2,2 = ; Kompas deck

a. Beban geladak bangunan atas pada Geladak Kimbul [poop deck]
Z1=
n =
PD1 = (untuk plat kulit dan geladak cuaca)
PD1 = (untuk main frame,stiffener, dan balok geladak)
PD1= (untuk SG, CG, CDG, SDG Web frame, Stringers, dan Grillage system
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA =
2) Untuk menghitung deck beam.
PDA =
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam.
PDA =
b. Beban geladak rumah geladak pada Geladak Skoci [boat deck]
Z2 =
n =
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA =
2) Untuk menghitung deck beam.
PDA =
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam..
PDA =
c. Beban geladak pada Geladak Kemudi [Navigation deck]
Z3 =
n =
= 0,34 n min = 0,5
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA = PD1 x n

2) Untuk menghitung deck beam.
PDA = PD1 x n
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam..
PDA = PD1 x n
d. Beban geladak rumah geladak pada Geladak kompas [Compass deck]
Z4 =
n =
= 0,12
nmin = 0,5
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA = PD1xn
2) Untuk menghitung deck beam.
PDA = PD1xn
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam..
PDA = PD1xn
e. Beban geladak Bangunan atas pada Geladak Akil [Fore Castle deck]
n = 1
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA = PD2xn
2) Untuk menghitung deck beam.
PDA = PD2xn’]
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam..
PDA = PD2xn
f. Beban geladak rumah geladak pada Geladak Derek [Winch deck]
Z5 = Z1 = 10,4 m
n =
PD2 = kN/m2
PD2 = kN/m2
PD2 = kN/m2
1) Untuk menghitung plat geladak.
PDA = PD2xn
2) Untuk menghitung deck beam.
PDA = PD2xn
3) Untuk menghitung CDG, SDG, dan strong beam.
PDA = PD2xn
2.2 Beban sisi kapal
2.2.1 Beban sisi kapal dibawah garis air muat tidak boleh kurang dari rumus (BKI 2001 Sec. 4.2 – B.2.1.1) sebagai berikut :
Ps = 10 (T – Z) + Po CF (1 + ) KN/m2
Dimana :
Po1 = KN/m2 (untuk plat kulit dan geladak cuaca)
Po2 = KN/m2 (untuk stiffener, main frame, deck beam)
Po3 = KN/m2 (untuk web, stringer, girder,strong beam)
Untuk titik berat dibawah garis air
z = Jarak tegak antara pusat beban ke base line
= T
CF1 = 1,0 + (buritan kapal)
CF2 = 1,0 untuk 0,2 0,7 (tengah kapal)
CF3 = 1,0 + (haluan kapal)

Nilai “Z” bangunan atas untuk beban sisi,
1. Z1 = T +
2. Z2 = H + ½ .h1
3. Z3 = Z2 + h1
4. Z4 = Z3 + h1
5. Z5 = Z4 +.h1
6. Z6 = Z5 + h1
a. Beban sisi kapal di bawah garis air muat untuk menghitung ketebalan pada plat.
1). Untuk buritan kapal
Ps1 = 10 (T – Z) + Po1 CF1 (1 + )
2). Untuk midship kapal
Ps2 = 10 (T – Z) + Po1 CF2 (1 + )
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = 10 (T – Z) + Po1 CF3 (1 + )

b. Beban sisi kapal di bawah garis air muat untuk menghitung main frame.
1). Untuk buritan kapal
PS1 = 10 (T – Z) + Po2 CF1 (1 + )
2). Untuk midship kapal
Ps2 = 10 (T – Z) + Po2 CF2 (1 + )
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = 10 (T – Z) + Po2 CF3 (1 + )
c. Beban sisi kapal di bawah garis air muat untuk menghitung web frame, dan stringers.
1). Untuk buritan kapal
Ps1 = 10 (T – Z) + Po3 CF1 (1 + )
2). Untuk midship kapal
Ps2 = 10 (T – Z) + Po3 CF2 (1 + )
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = 10 (T – Z) + Po3 CF3 (1 + )
2.2.2 Beban sisi kapal di atas garis air muat tidak boleh kurang dari BKI 2001
sec. 4 -2 B.2.12 sbb:
Ps = Po CF KN/m2
Dimana :
Po1 = untuk plat kulit
Po2 = untuk untuk frame
Po3 = untuk web, stringer, grillage sistem
T =
Z = T + (H – T)
Cf1 = Untuk Buritan Kapal
Cf2 = Untuk Midship
Cf3 = Untuk Haluan Kapal
a. Beban sisi kapal di atas garis air muat untuk menghitung ketebalan plat:
1). Untuk Buritan kapal
Ps1 = Po1 CF1
2). Untuk Midship kapal
Ps2 = Po1 CF2
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = Po1 CF3
b. Beban sisi kapal di atas garis air muat untuk menghitung main frame :
1). Untuk Buritan kapal
Ps1 = Po2 CF1
2). Untuk Midship kapal
Ps2 = Po2 CF2
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = Po2 CF3

c. Beban sisi kapal di atas garis air muat untuk menghitung Web frame, dan Stringer :
1). Untuk Buritan kapal
Ps1 = Po3 CF1
2). Untuk Midship kapal
Ps2 = Po3 CF2
3). Untuk haluan kapal
Ps3 = Po3 CF3
2.2.3 Beban sisi kapal di atas Garis air muat pada bangunan Atas dan rumah geladak
Beban geladak pada bangunan atas dan rumah geladak dihitung berdasarkan formula sbb:
Ps = Po x Cf x
Dimana;
Po1 = untuk plat kulit
Po2 = untuk frame
Po3 = untuk web, stringer, grillage sistem
h1, h2, h3 = 2,2 m
H =
Maka,
a. Beban sisi pada Geladak Kimbul (Poop Deck) ;
1). Untuk menghitung Plat kulit :
Dimana :
Z2 =
CF1 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF1
2) Untuk menghitung frame :
Dimana :
Z2 =
CF1 =
Po2 =
Sehingga :
PS1 = Po2 CF1
3) Untuk menghitung web frame, dan stringers :
Dimana :
Z2 =
CF1 =
Po3 =
Sehingga :
PS1 = Po3 CF1
b. Beban sisi di atas garis air muat pada Geladak Sekoci (Boat Deck)
1). Untuk menghitung Plat sisi :
Dimana :
Z3 =
CF1 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF1

2) Untuk menghitung main frame:
Dimana :
Z3 =
CF1 =
Po2 =
PS1 = Po2 CF1
3) Untuk menghitung web frame, dan stringers:
Dimana :
Z3 =
CF1 =
Po3 =
Sehingga :
PS1 = Po3 CF1
c. Beban sisi pada Deck Kemudi (navigasi deck) ;
1). Untuk menghitung Plat sisi:
Dimana :
Z4 =
CF1 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF1
2) Untuk menghitung frame:
Dimana :
Z4 =
CF1 =
Po2 =
Sehingga :
PS1 = Po2 CF1
3) Untuk menghitung web frame, dan stringers:
Dimana :
Z4 = 15,9 M
CF1 = 1,72
Po3 = 13,80 KN/m2
Sehingga :
PS1 = Po3 CF1
d. Beban sisi pada Deck Kompas (compass deck);
1) Untuk menghitung Plat sisi:
Dimana :
Z5 =
CF1 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF1
2) Untuk menghitung frame:
Dimana :
Z5 =
CF1 =
Po2 =
Sehingga :
PS1 = Po2 CF1
3) Untuk menghitung web frame, dan stringers:
Dimana :
Z5 =
CF1 =
Po3 =
Sehingga :
PS1 = Po3 CF1
e. Beban sisi pada Geladak Akil (Fore Castle deck);
1) Untuk menghitung Plat kulit:
Dimana :
Z2 =
CF3 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF3
2) Untuk menghitung frame:
Dimana :
Z2 =
CF3 =
Po2, =
Sehingga :
PS1 = Po2 CF3

3) Untuk menghitung web frame, dan stringers:
Dimana :
Z2 =
CF3 =
Po3 =
Sehingga :
PS1 = Po3 CF3
f. Beban sisi pada winch deck
1) Untuk menghitung Plat Sisi
Dimana :
Z2 =
CF2 =
Po1 =
Sehingga :
PS1 = Po1 CF2
2) Untuk menghitung Main Frame
Dimana :
Z2 =
CF2 =
Po2, =
Sehingga :
PS1 = Po2 CF3
3) Untuk menghitung Web Stiffener
Dimana :
Z2 =
CF2 =
Po3 =
Sehingga :
PS1 = Po3 CF3
2.2.4 Beban Alas Kapal
Beban luar pada alas / dasar kapal adalah dengan ketentuan menurut
(BKI 2001 Sec. 4-2. B.3)
PB = 10 T + ( Po Cf ) KN/m2
Dimana :
T =
Po1 = untuk plat kulit dan geladak cuaca
Po2 = untuk untuk frame dan deck beam
Po3 = untuk web, stringer, girder
Cf1 = untuk buritan kapal
Cf2 = untuk Midship kapal
Cf3 = untuk Haluan kapal
a. Beban alas untuk menghitung plat alas
1). Untuk Buritan kapal
PB1 = 10 x T + Po1 x Cf1
2). Untuk Midship kapal
PB2 = 10 x T + Po1 x Cf2
3). Untuk haluan kapal
PB3 = 10 x T + Po1 x Cf3
b. Beban alas untuk menghitung plat Bottom
1) Untuk buritan kapal
PB1 = 10 x T + Po2 x Cf1
2) Untuk tengah kapal
PB1 = 10 x T + Po2 x Cf2
3) Untuk haluan kapal
PB1 = 10 x T + Po2 x Cf3
c. Beban alas untuk menghitung girder,grillage
1) Untuk buritan kapal
PB1 = 10 x T + Po3 x Cf1
2) Untuk tengah kapal
PB1 = 10 x T + Po3 x Cf2
3) Untuk haluan kapal
PB1 = 10 x T + Po3 x Cf3

BAB 3 PERHITUNGAN PLAT KULIT DAN PROFIL
Pendahuluan
Pada bab 3 menjelaskan perhitungan dari ketebalan pelat berdasarkan klasifikasi BKI yang mana ketebalan pelat ini tidak boleh kurang dari rule BKI yang disesuaikan dengan tabal plat yang ada dipasaran serta menentukan ukuran profil konstruksi
Tujuan bab :
 Menjelaskan Ketebalan Plat Kapal yaitu pelat geladak,pelat sisi dan beban alas berdasarkan klasifikasi BKI
 Menjelaskan tebal palat pada setiap bagian kapal yaitu pada bagian after, midship dan forepeak khususnya pada bagian plat, frame serta penumpu sesuai dengan
3.1. Menentukan Tebal Plat Geladak
a. Menentukan Tebal Plat Geladak Cuaca
Tebal plat geladag cuaca pada kapal tidak boleh kurang dari : (Sec 7.A.7.1)
tD = 1,21 a + tk (mm)
Dimana :
PD1 = untuk buritan kapal
PD2 = untuk midship kapal
PD3 = untuk haluan kapal
a = jarak gading m
k = 1,0 faktor bahan
tk = 1,5 untuk tB 10 mm
tk = 0,5 untuk tB 10 mm
 Tebal minimum untuk daerah buritan dan haluan adalah sbb:
tDmin = (5,5 + 0,02L) + tk
1) Tebal plat geladak pada 0,1 L pada buritan kapal tidak boleh kurang dari :
tD1 = 1,21 ao + 1,5
 Tebal minimum untuk daerah midship
tDmin = (4,5 + 0,05L) + tk
2) Tebal plat geladak pada daerah midship
tD1 = 1,21 ao + 1,5
3) Tebal plat geladak pada daerah haluan kapal
tD1 = 1,21 ao + 1,5
= 6,44 mm  9 mm (diambil minimum)
b. Tebal plat geladak bangunan atas ( sec. 16. B. 1.1)
1) Tebal plat geladak kimbul (poop deck)
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
2) Tebal plat geladag sekoci ( Boat Deck)
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
3) Tebal plat geladak navigasi
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
4) Tebal plat geladak kompas ( compass deck)
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
5) Tebal plat geladak akil (fore castle deck)
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
6) Tebal plat geladak Derek (winch deck)
t D1 = 1,21 ao x + 1,5
3.2 Menentukan Tebal Plat Sisi Lambung Kapal
a. Tebal plat sisi kapal di bawah garis air muat adalah sbb :
ts = 1,21 x a x + tk (mm)

Dimana :
PS1 = untuk buritan kapal
PS2 = untuk midship kapal
PS3 = untuk haluan kapal
k = 1,0 faktor bahan
tk = 1,5 untuk tB 10 mm
 Tebal minimum plat sisi dibawah garis air muat adalah sbb:
tSmin = k + 2
jadi ;
1) Tebal plat sisi kapal pada 0,05 L pada buritan kapal tidak boleh kurang dari :
Ts2 = 1,21 x ao x + 1,5
2) Tebal plat sisi pada daerah midship
ts1 = L<90 m
3) Tebal plat sisi pada daerah haluan kapal
Ts2 = 1,21 x ao x + 1,5
b. Tebal plat sisi kapal di atas garis air muat adalah sbb :
Ts2 = 1,21 x a x + tk (mm)
Dimana :
PS1 = untuk buritan kapal
PS2 = untuk midship kapal
PS3 = untuk haluan kapal
k = 1,0 faktor bahan
tk = 1,5 untuk tB 10 mm
 Tebal minimum plat sisi kapal diatas garis air adalah sbb:
tGmin = (0,8 x t) + 2 jadi ;
a. Tebal plat sisi kapal pada 0,05 L pada buritan kapal tidak boleh kurang dari :
ts1 = 1,21 x ao x + 1,5
b. Tebal plat sisi pada daerah midship
ts1 = 1,21 x ao x + 1,5
c. Tebal plat sisi pada daerah haluan kapal
ts1 = 1,21 x ao x + 1,5
3.3 Tebal Plat Sisi Pada Bangunan Atas dan rumah geladak
tGmin = (0,8 x t) + 1 jadi:
1) Tebal plat sisi geladak kimbul (poop deck)
t s1 = 1,21 aox + 1,5
2) Tebal plat sisi geladag sekoci (Boat Deck)
ts1 = 1,21 ao x + 1,5
3) Tebal plat sisi geladak navigasi
t s1 = 1,21 ao x + 1,5
4) Tebal plat sisi geladak kompas ( compass deck)
t s1 = 1,21 ao x + 1,5
5) Tebal plat sisi geladak akil (fore castle deck)
t s1 = 1,21 ao x + 1,5
6) Tebal plat sisi geladak winch
t s1 = 1,21 ao x + 1,5
3.4 Menentukan Tebal Plat Alas Kapal
Dimana :
Pb1 = untuk buritan kapal
Pb2 = untuk midship kapal
Pb3 = untuk haluan kapal
 Tebal minimum plat alas
tGmin =( k) +3 jadi:

1) Tebal plat alas pada daerah buritan kapal
t b1 = 1,21 0,6 + 1,5
2) Tebal plat alas pada daerah midship
t b1 = L dari 4,5 m (Sec. 8-B.3.1) direncanakan dipasang 2 penumpu samping.
b. Tebal penumpu samping tidak boleh kurang dari :
t = (mm)
=
= 8,3 mm  8,5 mm
c. Alas dalam
Tebal plat alas dalam (inner Bottom) tidak boleh kurang dari
(BKI Vol. II‘01Sec. 8-B.4.1)
t = 1,1 a + tk
Dimana :
p = tekanan perkiraan.
p = 10 (T – hDB)
jadi,
t = 1,1 x 0,6 + 1,5
= 6,53 mm  7 mm
4.1.3 Alas Ganda Sebagai Tangki
Tangki bahan bakar dan minyak lumas :
• Tangki alas ganda boleh digunakan untuk mengangkut minyak guna keperluan kapal yang titik nyalanya dibawah 60o C, tangki ini dipisahkan oleh cofferdam.
• Tangki minyak lumas, tangki buang, dan tangki sirkulasi harus dipisahkan oleh cofferdam.
• Minyak buang dan tangki sirkulasi minyak harus dibuat sedapat mungkin dipisahkan dari kulit kapal.
• Penumpu tengah harus dibuat kedap dan sempit diujung kapal jika alas ganda pada tempat tersebut tidak melebihi 4 m.
• Papan diatas alas ganda harus ditekan langsung diatas gelar-gelar guna mendapatkan celah untuk aliran air.
4.1.4 Dasar Ganda Dalam, Sistem Gading Melintang
a) Wrang alas penuh (Solid Floor)
1) Dianjurkan untuk memasang wrang pada setiap gading dimana sistem gadingnya adalah :
Dibagian penguat alas haluan
Didalam kamar mesin
Dibawah ruang muat
Pondasi Ketel
2) Wrang alas penuh harus dipasang sekat melintang di bawah topang ruang muat.
3) Dibagian lain Dasar Ganda jarak terbesar wrang alas penuh tidak boleh kurang dari 2,4 m untuk kapal L 100 m
4) Tebal wrang alas penuh
Tidak boleh kurang dari (Sec. 8-B.6.2.1)
tebal plat wrang alas penuh daerah tengah kapal :
t = tm – 2,0
= tm – 2,0
5) Lubang peringan
Panjang max = 0,75 l m
= 0,75 1000 = 750 mm
Direncanakan = 750 mm
Tinggi max = 0,5 h
= 0,5 1000 = 500 mm
Direncanakan = 500 mm
Diameter = 1/3 1000
= 333,33 m
Direncanakan = 400 mm
Jarak max. Lubang peringan dari penumpu tengah dan plat tepi tidak boleh melebihi dari 0,4 tinggi penumpu tengah.
b) Wrang alas kedap air
1) Tebal dari wrang alas kedap air tidak boleh kurang dari wrang alas penuh = 9 mm
2) Ukuran Stiffener pada wrang kedap air :
W = k x 0,55 x a x l2 x P Profil
Dimana ;
l = hdb – 50
a = jarak gading
P = beban alas dalam kN/m²
W = 1,0 x 0,55 x a x (l )2 x P cm2
Profil L = 80 x 40 x 6
c) Wrang alas terbuka
Wrang alas terbuka terdiri dari gading-gading pada plat dasar dan gading balik pada plat alas dalam yang dihubungkan pada penumpu tengah dan plat tepi melalui plat penunjang.
Modulus penampang gading-gading alas tidak boleh kurang dari (BKI 2001 Sec. 8.B-6.4.3) :
W = n c a P l2 k (cm3)
a) Gading balik
P = 10 (T – hdb)
l = Panjang tak ditumpu = ½ B – ( 4 (0,75 hdb)) / 3
n = 0,55 m
c = 1
k = 1
a = jarak gading
W = 0,55 1 0,6 58 (1,70)2 1
= 55,315 cm3 (contoh)
Profril perencanaan (L) = 90 x 60 x 8
b) Gading alas
P = PB
l = Panjang tak ditumpu = ½ B – ( 4 (0,75 hdb)) / 3
n = 0,55
c = 1
k = 1
a = 0,6
W = 0,7 1 0,6 85,245 ( 1,70 )2 1,0
= 81,30 KN/m3 (contoh)
Profil perencanaan (L) = 100 x 75 x 9
4.2 Konstruksi Dasar Tunggal
Konstruksi dasar tunggal hampir sama dengan konstruksi dasar ganda ,perbedaan terletak yaitu tidak digunakannya alas dalam diatas penggunaan pelat alas. Konstruksi dasar tunggal umumnya digunakan pada ukuran kapal yang relatif lebih pendek
Ketebalan pelat alas dasar ganda menurut BKI (section 8.1.2.3)
mm
4.2.1 Penumpu Tengah (center girder)
Penumpu tengah pada 0,7 L di tengah kapal tidak boleh kurang dari
(Sec. 8-B.2.1):
Tinggi Penumpu tengah

Tebal penumpu tengah
Untuk daerah tengah kapal, tebal penumpu tengah :
mm
untuk 0,15 L pada ujung kapal, tebal penumpu tengah ditambah 10%.
4.2.2 Penumpu Samping (side girder)
Penumpu samping (S.G) sekurang-kurangnya dipasang dalam kamar mesin dan 0,25 L, bagian haluan. Satu penumpu samping dipasang apabila lebar horizontal dari sisi bawah plat tepi ke penumpu tengah > dari 4,5 m (Sec. 8-B.3.1) direncanakan dipasang 2 penumpu samping.
Tebal penumpu samping tidak boleh kurang dari :
mm
Tinggi Penumpu samping

BAB 5 KONSTRUKSI ALAS GANDA PADA KAMAR MESIN

Pendahuluan
Pada bab ini menghitung konstruksi yang digunakan sebagai pondasi untuk mesin utama (main engine)dan dapat digunakan juga untuk meletakkan mesin-mesin lainnya yang ada di kamar mesin .Konstruksi nya berupa penumpu,ketebalan top plate serta konstruksi wrang tempat dudukan mesin
Tujuan bab:
 Menghitung ketebalan penumpu pondasi mesin
 Menghitung ketebalan top plate serta wrang kamar mesin

5.1 Tebal plat penumpu memanjang (pondasi mesin)
Tebal plat pondasi mesin tidak boleh kurang dari :
t = + 14 (mm)
P = daya mesin 0,7355
= P (Bhp) 0,7355
P = kW
t = + 14
= 17,923 (contoh) diambil 18 mm
5.2 Top plate pada daerah kamar mesin
AR = + 70
P = P (Bhp) x 0.7355
= kW
AR =
= cm2
Lebar Top Plate 200 ~ 400
= diambil 300 mm
t = = cm
36 mm

5.3 Tebal wrang alas penuh pada daerah kamar mesin diperkuat sebesar (BKI 2001, Sec. 8-7.C.2.2)
t = 3,6 + (%)
= 3,6 + (%)
t = %
t = ( % 18 ) + 18 mm
= mm

BAB 6 PERHITUNGAN GADING MELINTANG DAN MEMANJANG

Pendahuluan
Pada bab ini menghitung modulus dari gading kapal yaitu gading utama dari lambung kapal sampai dengan bagunan atas dan rumah geladak.Selain gading utama juga perhitungan gading besar serta penegar – penegar yang membangun konstruksi kapal bagian lambung .kamar mesin sampai bangunan atas.Konstruksi lainnya yang dilakukan perhitungan yaitu braket dan pillar
Tujuan bab:
Menghitung modulus gading utama dan gading besar pada lambung kapal, kamar mesin serta bangunan atas serta profil yang digunakan sesuai dengan klasifikasi BKI
Menghitung modulus penegar secara horizontal maupun vertikan pada lambung dan bangunan atas serta profil yang digunakan sesuai dengan klasifikasi BKI
Menghitung braket (plat lutut) serta pillar yang digunakan pada kapal sesuai dengan klasifikasi BKI.
6.1 Gading utama lambung kapal
Jarak Gading Normal
a. Menurut BKI ’01 jarak gading normal antara 0,2 L dari FP sampai sekat ceruk buritan adalah tidak boleh kurang dari 600 mm
b. Di depan sekat tubrukan dan di belakang sekat ceruk buritan jarak gading normal maksimal 650 mm
a = + 0,48
= 0,68 m (contoh) di ambil  0,6 m
6.1.1 Gading-gading utama pada lambung kapal ( sec 9-1 A.2.1 )
Modulus gading utama tidak boleh kurang dari:
W = n c a l2 Ps (1,2,3) Cr k (cm3)
Dimana :
k = 1
n = 0,9 – 0,035 L
= 0,9 – (0,035 x L)
= 0,56
a = jarak gading
l = panjang tak ditumpu
Ps1 = KN/ m2 Untuk Buritan Kapal
Ps2 = KN/ m2 Untuk Midship Kapal
Ps3 = KN/ m2 Untuk Haluan Kapal
Crmin = 0,75
K = 1,0
C = 0,6
Jadi :
1) Modulus gading utama pada daerah buritan ( sec 9-2. A.1.1 )
W = 0,55 0,6 0,6 (2,40)2 84,99 x 0,75 1,0
= 73,67 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 100 50 10

2) Modulus gading utama pada daerah midship ( sec 9-2. A.1.1 )
W = 0,55 0,6 0,6 (2,40)2 68,33 x 0,75 1
= 59,2 cm3 (contoh)

Profil yang direncanakan = L = 100 65 7

3) Modulus penampang gading pada gading utama bagian haluan kapal ( sec. 9-A.4.1) :
W = 0,55 0,6 0,6 (2,40)2 103,58 x 0,75 1,0
= 89,78 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 100 x 65 x 11

6.1.2 Gading-Gading Bangunan Atas ( Sec.9-A.3.2 )
Modulus gading bangunan atas tidak boleh kurang dari:
1) Poop deck
W = 0,55 a l2 Ps1 (poop deck) f k (cm3)
Dimana :
a = 0,6 m
l = panjang tak ditumpu
= 2,2 m
Ps1 = kN/m2
f = 0,75
k = 1
W = 0,55 0,6 (2,2)2 40,463 0,75 1
= 48,47 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 80 65 8
2) Boat deck
W = 0,55 a l2 Ps(boat Deck) f k (cm3)
Dimana :
a = 0,6 m
l = panjang tak ditumpu
= 2,2 m
Ps (boat deck) = KN/m2
f = 0.75
k = 1
W = 0,55 0,6 (2,2)2 35,196 0,75 1
= 42,16 cm3
Profil yang direncanakan = L = 90 60 6
3) Navigation Deck
ps = 31,142 KN/m2
f = 0,75
W = 0,55 0,6 (2,2)2 31,142 0,75 1
= 37,80 cm3
Profil = L = 80 65 6
4) Compass Deck
Ps = 27,925 KN/m2
W = 0,55 0,6 (2,2)2 27,925 0,75 1
= 33,90 cm3
Profil = L = 75 50 9
5) Winch Deck
Ps = 16,041 KN/m2
f = 0,75
W = 0,55 0,6 (2,2)2 16,041 0,75 1
= 19,47 cm3
Profil = L = 60 40 6
6) Fore Castle Deck
Ps = 69,898 KN/m2
f = 0,75
W = 0,55 0,6 (2,2)2 69,898 0,75 1
= 84,85 cm3
Profil = L = 100 75 9
6.2 Gading-Gading Besar ( Sec.9.3 – A.5.3.1 )
Modulus gading Besar tidak boleh kurang dari :
W = 0,6 x e x l2 x Ps x n x k
Dimana ;
a = 0,6 m
e = 4 x a
= 4 x 0,6 = 2,4 m
l = 1/3 (H – hdb)
Ps1 = kN / m2 Untuk Buritan Kapal
Ps2 = kN / m2 Untuk Midship Kapal
Ps3 = kN / m2 Untuk Haluan Kapal
n = 1,0
k = 1,0
jadi,
1) Modulus penampang gading pada buritan kapal :
W = 0,6 x 2,4 x (2,4)2 x Ps1 x 1,0 x 1,0
= kN / m2
Profil yang direncanakan = T = 230 16 FP 110 16
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 11 1,6 = 17,.6 cm2
fs = 23 1,6 = 36,8 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,39
fs/F = 0,82
w = 0,62
W = w F h
= 0,62 45 23
= 641,7 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
2) Modulus penampang gading pada Midship:
W = 0,6 x 2,4 x (2,4)2 x 63,73 x 1,0 x 1,0
= 528,58 cm3
Profil yang direncanakan = T = 220 14 FP 120 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 12 1,4 = 16,8 cm2
fs = 22 1,4 = 30,8 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,37
fs/F = 0,68
w = 0,54
W = w F h
= 0,54 45 22
= 534,6 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
3) Modulus penampang gading pada Haluan kapal:
W = 0,6 x 2,4 x (2,4)2 x 91,93 x 1,0 x 1,0
= 762,5 cm3
Profil yang direncanakan = T = 260 16 FP 140 16
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 14 1,6 = 22,4 cm2
fs = 24 1,6 = 41,6 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,50
fs/F = 0,92
w = 0,71
W = w F h
= 0,71 45 24
= 766,80 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.3 Gading Besar Kamar Mesin
Modulus gading Besar Kamar Mesin tidak boleh kurang dari :
W = 0,8 x e x l2 x Ps x n x k
Ps1 = 77,06 kN / m2 Untuk Buritan Kapal
Modulus penampang gading pada buritan kapal ( sec 9-4 A.6.2.1 ):
W = 0,8 x 2,4 x (2,4)2 x 77,06 x 1,0 x 1,0
= 852,2 kN / m2
Profil yang direncanakan = T = 260 16 FP 140 16
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 14 1,6 = 22,4 cm2
fs = 26 1,6 = 41,6 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,50
fs/F = 0,92
w = 0,73
W = w F h
= 0,73 45 26
= 854,10 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

6.4 Gading Besar Pada Bangunan Atas
Sesuai Dengan BKI 2001 Sec. 9.3 – A.5.3.1
1) Pada poop deck
Ps = 32,371 KN/m2
W = 0,6 x 2,4 x (2,2)2 x 32,371 x 1,0 x 1,0 (cm3)
= 225,611 cm3
Profil = T = 200 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 20 1 = 20 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,44
w = 0,28
W = w F h
= 0,28 45 8
= 234 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
2) Pada Boat deck
Ps = 28,157 KN/m2
W = 0,6 x 2,4 x (2,2)2 x 28,157 x 1,0 x 1,0 (cm3)
= 196,241 cm3
Profil = T = 160 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,0 = 8 cm2
fs = 16 1,0 = 16 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,40
w = 0,36
W = w F h
= 0,36 45 18
= 198 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
3) Gading besar pada Navigation Deck
Ps = 24,914 KN/m2
W = 0,6 2,4 (2,2)2 24,914 1 1 (cm3)
= 173,637 cm3
Profil = T = 150 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,0 = 8 cm2
fs = 15 1,0 = 15 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,33
w = 0,26
W = w F h
= 0,26 45 15
= 198 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
4) Gading besar pada compas Deck
Ps = 22,340 KN/m2
W = 0,6 2,4 (2,2)2 22,340 1 1 (cm3)
= 155,703 cm3
Profil = T = 140 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,0 = 8 cm2
fs = 14 1,0 = 14 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,31
w = 0,250
W = w F h
= 0,250 45 14
= 157,5 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
5) Gading Besar pada Winch Deck
Ps = 12,833 KN/m2
W = 0,6 2,4 (2,2)2 12,833 1 1 (cm3)
= 89,442 cm3
Profil = T = 100 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,0 = 8 cm2
fs = 10 1,0 = 10 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,16
fs/F = 0,20
w = 0,210
W = w F h
= 0,210 45 10
= 94,5 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6) Gading besar pada Fore Castle Deck
Ps = 56,918 KN/m2
W = 0,6 2,4 (2,2)2 56,918 1 1 (cm3)
= 389,73 cm3
Profil = T = 200 10 FP 120 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 12 1,0 = 12 cm2
fs = 20 1,0 = 20 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,32
fs/F = 0,53
w = 0,435
W = w F h
= 0,435 45 20
= 391,5 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.5 Perhitungan Senta Sisi
Modulus senta sisi tidak boleh kurang dari:
W = 0,6 e l2 Ps k (cm3)
Dimana :
k = 1
e = lebar pembebanan
= 1/3 (H – h)
= 1/3 ( 8,20 – 1) = 2,40 m
Ps1 = KN/ m2
Ps2 = KN/ m2
Ps3 = KN/ m2
l = panjang tak di tumpu
= 4 x a
= 4 x 0,68 = 2,4 m
Jadi :
1) Modulus senta sisi pada daerah buritan
W = 0,6 2,40 (2,4)2 77,06 1,0
= 639,138 cm3
Profil yang direncanakan = T = 230 16 FP 120 16
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 12 1,6 = 19,2 cm2
fs = 23 1,6 = 36,8 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,43
fs/F = 0,82
w = 0,620
W = w F h
= 0,453 60 26
= 641,7 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
2) Modulus senta sisi pada daerah midship
W = 0,6 2, 59 (2,4)2 63,73 1,0
= 528,581 cm3
Profil yang direncanakan = T = 230 14 FP 120 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 12 1,4 = 16,8 cm2
fs = 23 1,4 = 32,2 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,37
fs/F = 0,72
w = 0,515
W = w F h
= 0,515 45 32,2
= 533,025 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
3) Modulus penampang senta sisi pada haluan kapal :
W = 0,6 2,59 (2,4)2 91,93 1,0
= 762,52 cm3
Profil yang direncanakan = T = 270 16 FP 120 16
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 12 1,6 = 19,2 cm2
fs = 27 1,6 = 43,2 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,43
fs/F = 0,96
w = 0,630
W = w F h
= 0,63 45 27
= 765,45 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

6.6 Perhitungan Balok Geladak
6.6.1 Modulus penampang balok geladak melintang tidak boleh kurang dari (Sec.10. 1.B.1) :
W = c a Pd l2 k ( cm3 )
dimana :
c = 0,75 untuk Beam
a = jarak gading
PD1 = KN/m2 untuk Buritan kapal
PD2 = KN/m2 untuk Midship kapal
PD3 = KN/m2 untuk Haluan kapal
l = Panjang tak ditumpu = ( 1/6 B)
= 2,70 m (diambil terbesar)
k = 1,0
sehingga,
1) Modulus penampang deck beam pada buritan kapal
W = 0,75 0,6 27,60 (2,70)2 1,0
= 90,53 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 100 65 11
2) Modulus penampang deck beam pada Midship kapal
W = 0,75 0,6 25,09 (2,7)2 1,0
= 81,30 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 100 75 9
3) Modulus penampang deck beam pada haluan kapal
W = 0,75 0,6 34,71 (2,7)2 1,0
= 113,85 cm3 (contoh)
Profil yang direncanakan = L = 130 65 10
6.6.2 Balok Geladak Bangunan Atas (Sec. 10-B.1)
Modulus balok geladak bangunan atas (Sec. 10-B.1)
W = c a P l2 k (cm3)
1) Modulus Deck Beam pada geladak kimbul (Poop Deck)
c = 0,75 B = 16,2 m
a = 0,6 m ½ B’ = 7,1 m
l = panjang tak ditumpu = (½ B) x 1/3
= (½ 16,2) x 1/3 = 2,70
k = 1
P = 21,526 KN/m2
W = 0,75 0,6 21,526 (2,7)2 1
=70,62 cm3
Profil = L = 100 50 10
2) Modulus Deck Beam pada geladak sekoci (Boat Deck)
c = 0,75 B = 14,2 m
a = 0,6 m ½ B = 7,1 m
l = panjang tak ditumpu = (½ x B) x 1/2
= 3,55 m
k = 1
P = 15,454 KN/m2
W = 0,75 0,6 15,454 (3,55)2 1
= 87,64 cm3
Profil = L = 100 x 75 x 9
3) Modulus deck beam pada Navigation Deck
P = 13,799 KN/m2
c = 0,75 B = 14,2 m
a = 0,6 m ½ B = 7,1 m
l = panjang tak ditumpu = (½ x B) x ½
= 3,55 m
W = 0,75 0,6 13,799 (3,55)2 1,0
= 78,25 cm3
Profil = L = 100 65 9
4) Modulus Deck Beam pada geladak kompas
P = 13,799 KN/m2
c = 0,75 B = 12,2 m
a = 0,6 m ½ B = 6,1 m
l = panjang tak ditumpu = (½ x B) x ½
= 3,05 m
W = 0,75 0,6 13,799 (3,05)2
= 57,76 cm3 1,0
Profil = L = 90 75 7
5) Modulus Deck Beam pada Winch deck
P = 19,569 KN/m2
c = 0,75 B = 9,1 m
a = 0,6 m ½ B = 4,55 m
l = panjang tak ditumpu = (½ x B) x ½
= 2,1 m
W = 0,75 0,6 19,569 (2,1)2 1,0
= 38,83 cm3
Profil = L = 80 x 65 x 6
6) Modulus Deck Beam pada Fore castle deck
P = 34,705 KN/m2
c = 0,75 B = 9,494 m
a = 0,6 m ½ B = 4,747 m
l = panjang tak ditumpu = (½ x B) x ½
= 2,374 m
W = 0,75 0,6 34,705 (2,374)2 1,0
= 87,98 cm3
Profil = L = 100 75 9
6.7 Balok Geladak Besar (Strong Beam)
a. Modulus penampang strong beam tidak boleh kurang dari (Sec. 10.B.4.1)
W = C e l2 PD k (cm3)
Dimana,
C = 0,75 untuk Beam (balok)
e = 4 x a = 4 x 0,6 = 2,4 m
l = panjang tak di tumpu = (½ B) x 1/3 = 2,7 m
PD1 = KN/m2 untuk Buritan kapal
PD2 = KN/m2 untuk Midship kapal
PD3 = KN/m2 untuk Haluan kapal
k = 1,0
jadi :
1) Modulus Strong beam pada buritan kapal
W = 0,75 2,4 (2,7)2 22,08 1
= 289,7 cm3
Profil yang direncanakan T =160 12 FP 110 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,9 = 45
f = 11 1,2 = 13,2 cm2
fs = 16 1,2 = 19,2 cm2
F = 45 1.0 = 45 cm2
f/F = 0,29
fs/F = 0,43
w = 0,405
W = w F h
= 0,405 45 16
= 291,60 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
2) Modulus Strong beam pada midship kapal
W = 0,75 2,4 (2,7)2 20,07 1
= 263,37 cm3
Profil yang direncanakan T =180 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 1,0 = 50
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 18 1,2 = 21,6 cm2
F = 50 1.0 = 50 cm2
f/F = 0,19
fs/F = 0,43
w = 0,3
W = w F h
= 0,3 40 18
= 270 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
3) Strong beam pada Haluan kapal
W = 0,75 2,4 (2,7)2 27,76 1
= 364,32 cm3
Profil yang direncanakan T = 190 14 FP 100 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,9 = 45
f = 10 1,4 = 14 cm2
fs = 19 1,4 = 26,6 cm2
F = 45 1.0 = 45 cm2
f/F = 0,31
fs/F = 0,59
w = 0,430
W = w F h
= 0,430 45 19
= 367,65 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
b. Strong beam pada bangunan atas
1) Pada Poop Deck
PD = 17,221 KN/m2
W = 0,75 2,4 (2,7)2 17,221 1 (cm3)
= 225,97 cm3
Profil = T = 160 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 16 1,2 = 19,2 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,21
fs/F = 0,43
w = 0,32
W = w F h
= 0,32 45 16
= 230,4 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
2) Pada Boat Deck
PD = 12,364 KN/m2
W = 0,75 2,4 (3,55)2 12,364 1 (cm3)
= 280,8 cm3
Profil = T = 160 14 FP 80 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,4 = 11,2 cm2
fs = 16 1,4 = 22,4 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,25
fs/F = 0,50
w = 0,32
W = w F h
= 0,32 45 16
= 280,8 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
3) Pada Navigasi Deck
Pd = 11,039 KN/m2
W = 0,75 2,4 (3,55)2 11,039 1 (cm3)
= 250,41 cm3
Profil = T = 160 14 FP 90 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,4 = 11,2 cm2
fs = 16 1,4 = 22,4 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,25
fs/F = 0,50
w = 0,35
W = w F h
= 0,35 45 16
= 252 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
4) Pada compas Deck
Ps = 11,039 KN/m2
W = 0,75 2,4 (3,05)2 11,039 1 (cm3)
= 184,84 cm3
Profil = T = 150 11 FP 80 11
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,1 = 8,8 cm2
fs = 15 1,1 = 16,5 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,20
fs/F = 0,37
w = 0,275
W = w F h
= 0,275 45 15
= 185,63 cm3
5) Pada Winch Deck
Ps = 15,655 KN/m2
W = 0,75 2,4 (2,1)2 15,655 1 (cm3)
= 124,27 cm3
Profil = T = 120 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 12 1,2 = 14,4 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,21
fs/F = 0,32
w = 0,235
W = w F h
= 0,235 45 12
= 126,9 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6) Pada Fore castle Deck
Ps = 27,764 KN/m2
W = 0,75 2,4 (2,274)2 27,764 1 (cm3)
= 281,54 cm3
Profil = T = 170 14 FP 90 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45
f = 9 1,4 = 12,6 cm2
fs = 17 1,4 = 23,8 cm2
F = 45 10 = 45 cm2
f/F = 0,28
fs/F = 0,53
w = 0,405
W = w F h
= 0,405 45 17
= 309,83 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

6.7.1 Penumpu Geladak (Deck Girder)
Tinggi penumpu tidak boleh kurang dari 1/25 panjang tak ditumpu tinggi plat bilah hadap, penumpu yang dilubangi (lubang las) untuk balok geladak yang menerus minimal 1,5 tinggi balok geladak.
Modulus Penumpu tengah (Center Deck Girder)
W = c e l2 Pd k (cm3)
Dimana :
c = 0,75
e = lebar pembebanan = (½ B) x 1/3 = 2,7 m
l = panjang tak di tumpu = 4 0,6 = 2,4 m
PD1 = kN/m2
PD2 = kN/m2
PD3 = kN/m2
k = 1
a. Modulus penampang Center Deck Girder pada daerah 0,1 L dari AP tidak boleh kurang dari (BKI 2001 Vol. II Sec. –10 B.4.1)
W = 0,75 e (2,4)2 Pd 1
= 257,51 cm3 contoh
Profil = T = 180 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 18 1,2 = 21,6 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,21
fs/F = 0,48
w = 0,32
W = w F h
= 0,32 42 18
= 259,2 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
b. Modulus Penampang Penumpu Tengah (Centre Deck Girder) Pada Daerah 0,6 L, tengah kapal tidak boleh kurang dari :
W = 0,75 2,7 (2,4)2 20,07 1
= 234,1 cm3
Profil = T = 180 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 1,0 = 50
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 18 1 = 18 cm2
F = 50 1 = 50 cm2
f/F = 0,16
fs/F = 0,36
w = 0,265
W = w F h
= 0,265 50 18
= 238,5 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
c. Modulus penampang penumpu tengah pada 0,1 L, dari FP tidak boleh kurang dari :
W = 0,75 2,7 (2,4)2 27,76 1
= 323,84 cm3
Profil = T = 230 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,9 = 45
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 23 1 = 23 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,51
w = 0,315
W = w F h
= 0,315 45 23
= 326,03 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

6.7.2 Center Deck Girder pada bangunan atas
a) Pada Poop Deck
W = 0,75 2,7 (2,4)2 17,221 1
= 200,86 cm3
Profil = T = 160 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 16 1 = 16 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,20
fs/F = 0,39
w = 0,28
W = w F h
= 0,28 45 16
= 201,6 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
b) Pada Boat Deck
W = 0,75 3,55 (2,4)2 12,364 1
= 189,61 cm3
Profil = T = 150 11 FP 80 11
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,1 = 8,8 cm2
fs = 15 1,1 = 16,5 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,20
fs/F = 0,37
w = 0,285
W = w F h
= 0,285 45 15
= 192,38 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
c) Pada Navigasi Deck
W = 0,75 3,55 (2,4)2 11,039 1
= 169,29 cm3
Profil = T = 120 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 15 1 = 15 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,33
w = 0,255
W = w F h
= 0,25 45 15
= 172,13 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
d) Pada Kompas Deck
W = 0,75 3,05 (2,4)2 11,039 1
= 145,45 cm3
Profil = T = 120 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 14 1 = 14 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,31
w = 0,235
W = w F h
= 0,235 45 14
= 148,05 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
e) Pada Winch Deck
W = 0,75 2,1 (2,4)2 15,655 1
= 142,02 cm3
Profil = T = 150 11 FP 80 11
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8,0 1,1 = 8,8 cm2
fs = 14 1,1 = 15,4 cm2
F = 45 1,0 = 45 cm2
f/F = 0,2
fs/F = 0,34
w = 0,23
W = w F h
= 0,23 45 14
= 144,9 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
f) Pada Fore Castle Deck
W = 0,75 2,374 (2,4)2 27,764 1
= 284,68 cm3
Profil = T = 180 12 FP 90 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 9 1,2 = 10,8 cm2
fs = 18 1,2 = 21,6 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,24
fs/F = 0,48
w = 0,355
W = w F h
= 0,355 45 18
= 287,55 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.7.3 Modulus Penumpu samping (Side Deck Girder)
W = c e l2 Pd k (cm3)
Dimana :
c = 0,75
e = lebar pembebanan = (½ B) x 1/3 = 2,7 m
l = panjang tak di tumpu = 4 0,6 = 2,4 m
PD1 = 22,08 kN/m2
PD1 = 20,07 kN/m2
PD1 = 27,76 kN/m2
k = 1
a. Modulus penampang SDG pada daerah 0,1 L dari AP tidak boleh kurang dari (BKI 2001 Vol. II Sec. –10 B.4.1)
W = 0,75 2,7 (2,4)2 22,08 1
= 257,51 cm3
Profil = T = 180 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 18 1,2 = 21,6 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,21
fs/F = 0,48
w = 0,32
W = w F h
= 0,32 45 18
= 259,2 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

b. Modulus penampang penumpu samping (Side Deck Girder) pada daerah 0,6 L, tengah kapal tidak boleh kurang dari :
W = 0,75 2,7 (2,4)2 20,07 1
= 234,1 cm3
Profil = T = 180 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 1,0 = 50 cm2
f = 8,0 1 = 8 cm2
fs = 18 1 = 18 cm2
F = 50 1 = 50 cm2
f/F = 0,16
fs/F = 0,36
w = 0,265
W = w F h
= 0,265 50 18
= 238,5 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
c. Modulus penampang penumpu samping pada 0,1 L, dari FP tidak boleh kurang dari :
W = 0,75 2,7 (2,4)2 27,76 1
= 323,84 cm3
Profil = T = 230 10 FP 80 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 0,9 = 45 cm2
f = 8 1 = 8 cm2
fs = 23 1 = 23 cm2
F = 45 1 = 45 cm2
f/F = 0,18
fs/F = 0,51
w = 0,315
W = w F h
= 0,315 45 23
= 326,03 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
d. Modulus penampang penumpu samping tepat pada ambang palkah
W = 0,75 6,53 (2,4)2 20,07 1
= 566,18 cm3 e = 2,46 + 2,46 + 1,61 = 6,53
Profil = T = 250 14 FP 100 14
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50) t = 50 x 1,0 = 50 cm2
f = 10 1,4 = 14 cm2
fs = 25 1,4 = 35 cm2
F = 50 1,0 = 50 cm2
f/F = 0,28
fs/F = 0,70
w = 0,455
W = w F h
= 0,455 50 25
= 568,75 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

6.8 BULKHEAD (SEKAT KEDAP)
Sebuah kapal harus mempunyai sekat tubrukan pada haluan sekat buritan, sekat ruang mesin dan sekat antar ruang muat.
6.8.1 Sekat Tubrukan pada haluan (BKI 2001 Vol II. Sec 11. B.2.2.1)
Tebal sekat kedap air :
ts = Cp a + tk (mm)
Dimana:
Cp = 1,1 , f = . Re H = 256 N/mm2
= 1,1 =
= 1,036 = 0,89 N/mm2
a = 0,68
P = 9,81 h
dimana,
h = (H – hdb)/2 + 1 ( lihat penjelasan )
= (8,2 – 1)/2 + 1
= 4,60 M
P = 9,81 4,60
= 45,126 KN/M2
tk = 1,5
jadi,
t5 = 1,036 0,68 + 1,5
= 6,23 mm
tmin = 6,0 x
= 6,0 x = 5,66 mm
= 5,66 mm ( diambil 6 mm.)
Tebal Plat Sekat Tubrukan Direncanakan
Ts = t min + 2,5 mm
= 5,66 + 2,5 = 8,16  8,5 mm
a) Tebal sekat kedap air untuk (other bulkheads) BKI
section 11 B table 11.2 :
t = Cp a tk
Cp = 0,9
= 0,9
= 0,85
t = 0,85 0,68 1,5
= 5,37 mm
tmin = 6,0 x
= 6,0 x = 5,66 mm ( diambil 6 mm )
= 5,66 mm
Tebal Plat sekat untuk sekat lain direncanakan,
t = t min + 2 mm
= 5,66 mm + 2 mm = 7,66 mm  8 mm
6.8.2 Modulus Penampang Penegar Sekat Kedap Air
W = CS a I2 P (cm3)
Dimana :
Untuk Collision Bulkhead
CS = 0,33 f
= 0,33 0,89
= 0,293
Untuk other Bulkheads
CS = 0,265 f
= 0,265 0,89
= 0,235
l = 1/3 (H – h)
= 1/3 (8,2 – 1) = 2,4 m
P = 45,126 kN/m2
a = 0,68
maka :
W = 0,293 0,68 (2,4)2 45,126
= 51,72 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 80 65 8
 Penegar (stiffener) untuk Poop Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 21,526 1
= 19,813 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 65 50 5
 Penegar (stiffener) untuk Boat Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 15,454 1
= 14,225 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 60 40 5
 Penegar (stiffener) untuk Navigation Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 13,799 1
= 12,701 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 60 40 5

 Penegar (stiffener) untuk Compass Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 13,799 1
= 12,701 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 60 40 5
 Penegar (stiffener) untuk winch Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 19,569 1
= 18,012 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 60 50 6
 Penegar (stiffener) untuk Fore Castle Deck
W = 0,235 0,68 (2,4)2 34,705 1
= 39,780 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 80 65 6
6.8.3 Stiffener pada sekat kedap antara ruang muat dengan kamar mesin
Modulus penampang stiffener antara ruang muat dengan kamar mesin tidak boleh kurang dari :
W = CS a I2 P (cm3)
Dimana :
CS = 0,265 f
= 0,265 0,89
= 0,236
I = 2,4 m
P = 45,126 kN/m2
a = 0,68
maka :
W = 0,236 0,8 (2,4)2 45,126 1
= 41,54 cm3
Profil yang di rencanakan = L = 90 60 6

6.8.4 Modulus Vertical Web Stiffener untuk (Bulkhead)
W = Cs e l² P (cm3)
Dimana :
Cs = 0,293
e = lebar pembebanan
= 1/6 B
= 1/6 x 16,2
= 2,7
l = panjang tak ditumpu
= 1/3 (H – h)
= 1/3 (8,2 – 1)
= 2,4
P = 45,126 KN/m2
a) Modulus penampang untuk Vetical Web Stiffener (Sekat Tubrukan)
W = 0,293 2,7 ( 2,4 )² 45,126
= 205,38 cm3
Profil = T = 160 12 FP 80 12
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 8 1,2 = 9,6 cm2
fs = 16 1,2 = 19,2 cm2
F = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,24
fs / F = 0,48
w = 0,325
Jadi :
W = w F h
= 0,325 40 16
= 208 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
b) Modulus penampang Verical Web stiffener untuk sekat kamar mesin dan lainnya.
Cs = 0,235
W = 0,235 2,7 ( 2,4 )² 45,126
= 164,923 cm3
Profil = T = 140 11 FP 70 11
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 7 1,1 = 7,7 cm2
fs = 14 1,1 = 15,4 cm2
f = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,19
fs / F = 0,39
w = 0,295
Jadi :
W = w F h
= 0,295 40 14
= 165,2 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.8.5 Modulus untuk Horisontal Web Stiffener untuk (Bulkhead)
W = Cs e l² P (cm3)
Dimana :
Cs = 0,293
e = lebar pembebanan
= 1/3 (H – h)
= 1/3 (8,2 – 1)
= 2,4
l = panjang tak ditumpu
= 1/6 B
= 1/6 x 16,2
= 2,7
P = 45,126 KN/m2
a) Modulus penampang untuk Horisontal Web Stiffener (Sekat Tubrukan)
W = 0,293 2,4 ( 2,7 )² 45,126
= 231,05 cm3
Profil = T = 150 13 FP 80 13
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,85 = 42,5 cm2
f = 8 1,3 = 10,4 cm2
fs = 15 1,3 = 19,5 cm2
f = 42,5 1,0 = 42,5 cm2
f / F = 0,24
fs / F = 0,46
w = 0,365
Jadi :
W = w F h
= 0,36 42,5 16
= 232,69 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
a. Modulus penampang Horisontal Web. Stiffener untuk sekat kamar mesin dan lainnya.
Cs = 0,235
W = 0,235 2,4 ( 2,7 )² 45,126
= 185,54 cm3
Profil = T = 150 10 FP 90 10
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 9 1 = 9 cm2
fs = 15 1 = 15 cm2
F = 40 1 = 40 cm2
f / F = 0,23
fs / F = 0,38
w = 0,31
Jadi :
W = w F h
= 0,31 40 15
= 186 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.8.6.Modulus penampang Horisontal Web Stiffener ( Bangunan atas )
a. Web Stiffener pada Bangunan Atas
W = cs e l² P (cm3)
 Poop Deck
W = 0,235 2,7 (2,4)² 17,221 1
= 62,03 cm3
Profil = T = 110 8 FP 55 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 5,5 0,8 = 4,4 cm2
fs = 11 0,8 = 8,8 cm2
F = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,11
fs / F = 0,22
w = 0,16
Jadi :
W = w F h
= 0,16 40 11
= 70,4 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
 Boat Deck
W = 0,235 3,55 (2,4)² 12,364 1
= 59,41 cm3
Profil = T = 100 8 FP 50 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 5 0,8 = 4 cm2
fs = 10 0,8 = 8 cm2
F = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,10
fs / F = 0,20
w = 0,15
Jadi :
W = w F h
= 0,15 40 10
= 60 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)

 Navigation Deck
W = 0,235 3,55 (2,4)² 11,039 1
= 53,045 cm3
Profil = T = 100 8 FP 50 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 5 0,8 = 4 cm2
fs = 10 0,8 = 8 cm2
F = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,1
fs / F = 0,20
w = 0,15
Jadi :
W = w F h
= 0,15 40 10
= 60 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
 Compass Deck
W = 0,235 3,050 (2,2)² 11,039 1
= 45,045 cm3
Profil = T = 90 8 FP 50 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 5,0 0,8 = 4 cm2
fs = 9 0,8 = 7,2 cm2
F = 40 1 = 40 cm2
f / F = 0,10
fs / F = 0,20
w = 0,15
Jadi :
W = w F h
= 0,15 40 9
= 50,4 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
 Winch Deck
W = 0,235 2,374 (2,2)² 15,655 1
= 44,501 cm3
Profil = T = 90 8 FP 50 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 5,0 0,8 = 4 cm2
fs = 9,0 0,8 = 7,2 cm2
F = 40 1 = 40 cm2
f / F = 0,10
fs / F = 0,18
w = 0,14
Jadi :
W = w F h
= 0,14 40 9
= 50,4 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
 Fore Castle Deck
W = 0,293 2,374 (2,2)² 27,764 1
= 111,08 cm3
Profil = T = 120 8 FP 80 8
Koreksi modulus
Lebar berguna (40 – 50)t = 50 x 0,8 = 40 cm2
f = 8 0,8 = 6,4 cm2
fs = 12 0,8 = 9,6 cm2
F = 40 1,0 = 40 cm2
f / F = 0,15
fs / F = 0,56
w = 0,23
Jadi :
W = w F h
= 0,23 40 12
= 112,2 cm3
W rencana > W perhitungan (memenuhi)
6.9 Bracket
Untuk bracket biasanya digunakan untuk menghubungkan dua buah profil, yang mana diatur oleh bagian yang lebih kecil. (BKI 2001 Sec. 3 D.2.2)
1) Tebal dari bracket tidak boleh kurang dari : (tidak pakai flange)
t =
=
l =
2) Tebal dari bracket tidak boleh kurang dari : (pakai flange)
t =
=
a) Tebal bracket antara gading utama dengan balok geladak di kamar mesin :
t =
t = 6,46 mm  7 mm
Panjang lengan (l)
= k2 =
= = = 0,89
= 108,36 mm
direncanakan = 200 x 6,5
b) Tebal bracket antara gading utama dengan balok geladak di tengah kapal :
t =
t = 6,11 mm  7 mm
Panjang lengan (l)
=
=
= 100,83 mm
direncanakan = 190 x 6,5
c) Tebal bracket antara gading utama dengan balok geladak di haluan kapal :
t =
t = 6,79 mm  7 mm
Panjang lengan (l)
=
=
= 113,96 mm
direncanakan = 200 x 6,5

d) Tebal bradket antara gading utama dengan balok geladak diambang palkah :
t =
t = 8,73 mm  9 mm
Panjang lengan (l)
=
=
= 157,94 mm
direncanakan = 230 x 7,0

6.10. Plat Strem BKI Vol II section 13 (2.2.1)
Tebal plat dari pengelasan plate strem tidak boleh kurang dari:
t = (0,08 L + 6) (mm)
t max = 25 (mm)
• 600 mm diatas garis air, ketebalan akan berangsur-angsur dapat dikurangi menjadi 0,8 t.
L = 97,90 M
=
= 1
t = (0,08 x 97,9 + 6) x
= 13,832 14 mm
6.11. Pillars BKI voll II section 10- (c-1.1.3)
 Ǿ pillars 16” (400 mm)
 Tebal dari pillars tidak boleh kurang dari :
tW = 4,5 + 0,0015 da (mm) for da 300 mm
tW = 0,03 x 400
= 12 mm

«

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.